Archive for the ‘Keselamatan dan Keamanan Kerja’ Category

Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Kerja

Yang  dimaksud dengan keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan peralatan, tempat kerja dan lingkungan, serta cara-cara melakukan pekerjaan. Tempat kerja meliputi darat, laut, dalam tanah dan air, serta di udara. Keselamatan kerja menjadi salah satu aspek yang sangat penting, mengingat resiko bahayanya dalam penerapan teknologi. Keselamatan kerja merupakan tugas semua orang yang bekerja, setiap tenaga kerja dan juga masyarakat pada umumnya.

Setiap orang dituntut untuk dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan keahlian masing-masing. Siswa merupakan aset yang paling berharga bagi sekolah. Oleh karena itu agar siswa dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik, maka setiap siswa harus waspada dan berusaha agar selalu dalam kondisi kesehatan yang baik pula.

Tujuan kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja adalah:

1. Melindungi para pekerja dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin terjadi akibat kecerobohan pekerja/siswa.

2. Memelihara kesehatan para pekerja/siswa untuk memperoleh hasil pekerjaan yang optimal.

3.  Mengurangi angka sakit atau angka kematian diantara pekerja.

4. Mencegah timbulnya penyakit menular dan penyakit-penyakit lain yang diakibatkan oleh sesama kerja.

5. Membina dan meningkatkan kesehatan fisik maupun mental.

6. Menjamin keselamatan setiap orang yang berada ditempat kerja.

7. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.

Petugas laboratorium/workshop banyak dihadapkan pada bahaya, secara garis besar bahaya yang dihadapi dalam laboratorium/workshop dapat digolongkan antara lain:

1. Bahaya kebakaran atau ledakan dari zat atau bahan yang mudah terbakar atau meledak.

Bahaya kebakaran disini dapat timbul karena beberapa faktor diantaranya:

a. Faktor  manusia

b. Faktor teknis.

c. Faktor alam

Dengan meniadakan salah satu faktor di atas api akan padam, hal ini dapat ditempuh dengan cara mematikan, yaitu menjauhkan bahan bakar atau bahan-bahan yang mudah terbakar. Menutupi yaitu mengurangi oksigen diudara sekitar kebakaran, caranya adalah dengan menyemprotkan busa, pasir atau tanah pada permukaan bahan bakar. Bisa juga dengan car pendinginan yaitu menurunkan suhu benda-benda yang terbakar dibawah suhu nyalanya, caranya adalah dengan menyemprotkan air. Ada beberapa contoh bahan yang mudah terbakar dan meledak, yaitu ; kertas, kayu, kain, bahan karet, cairan gas, dan bahan padat yang dapat larut dan menyala (minyak,cat) peralatan listrik, magnesium, titanium, zirkonium, sodium, lithium dan potassium.

2. Bahan beracun dan kaustik.

Hal ini terjadi karena penggunaan bahan yang berbhaya, seperti racun atau bahan lainnya yang merusak organ tubuh atau penggunaan peralatan yang tidak berpengalaman secara sempurna. Bahaya-bahaya ini umpamanya bahaya kimia tidak hanya berupa korosif, oksidasi tetapi juga karsigonesitus, ledakan dan lain-lain.

Bahaya biologi seperti oleh virus, jamur, bakteri atau sesak nafas akibat kebocoran gas, uap kabut dan lain-lain yang masuk kedalam tubuh. Gangguan kesehatan akibat keracunan tidak hanya terjadi dengan cepat tetapi setelah beberapa tahun. Zat-zat yang berbahaya tersebut harus digunakan dalam kadar konsentrasi yang rendah serta pengangkutan dan penyimpanannya harus dalam tangki atau ketel tertutup. Jika dilabor atau diruang kerja harus ada instalasi isapan udara yang sempurna dan diimbangi dengan pemasukan udara segar.

3. Bahaya Radiasi

Bahaya radiasi merupakan bahaya ergonomi dari segi tata letak,pekarangan yang tidak memadai dan lain-lain termasuk bahaya fisik berupa temperatur dll.

4. Luka Bakar, luka bakar yang disebabkan terkena zat-zat yang berbahaya benda tajam di tempat kerja.

5. Syok akibat aliran listrik

Penggunaan peralatan listrik yang tidak tepat dan hubungan listrik yang salah dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan, misalnya kabel stop kontak, kontak sring dan lain-lain. Akibat adanya hubungan pendek sehingga menimbulkan panas atau bunga api yang dapat menyalakan atau membakar komponen lain, tindakan ceroboh serta penyimpanan peralatan yang tidak pada tempatnya.

6. Luka sayat akibat alas gelas yang pecah dan benda tajam.

7. Bahaya infeksi dari kuman, virus atau parasit, bahaya ini maerupakan bahaya biologi yang disebabkan oleh virus,bakteri, jamur,dll.

Pada umum nya bahaya tersebut dapat dihindari dengan usaha-usaha pengamanan, antara lain dengan penjelasan peraturan seta penarapan disiplin kerja.

Manejemen kesalamatan dan kesehatan kerja adalah pencapaian tujuan yang sudah di tentukan sebelumnya dengan menggunakan batuan orang lain (G.Terry). Untuk mencapai tujuan tersebut G.Terry membagi kegiatan atau fungsi manajemen menjadi 4 yaitu:

1. Perencanaan.

Fungsi perencanaan adalah suatu usaha menentukan kegiatan yang akan di lakukan dimasa mendatang guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini adalah keselamatan dan kesehatan kerja di laboraturium. Dalam perencanaan kegiatan yang ditentukan meliputi a). apa yang dikerjakan; b). bagai mana mengerjakannya; c).mengapa mengerjakan; e).kapan harus dikerjakan; f).dimana kegiatan itu harus dikerjakan ( Laboratorium )

2. Organisasi.

Organisasi keselamatan kerja laboratorium dapat dibentuk dalam beberapa jenjang, mulai dari tingkat laboratorium daerah (wilayah) sampai ketingkat pusat (nasional). Keterlibatan pemerintah dalam dalam organisasi ini baik secara langsung atau tidak langsung sangat diperlukan. Pemerintah dapat menempatkan pejabat yang terkait dalam organisasi ini ditingkat pusat dan tingkat daerah, disamping memberlakukan undang-undang keselamatan kerja ditingkat daerah. Untuk itu perlu dibentuk komisi keamanan kerja laboratorium yang tugas dan wewenangnya dapat berupa : a). Menyusun garis besar pedoman keamanan kerja laboratorium; b). Memberikan bimbingan, penyuluhan, pelatihan pelaksanaan keamanan kerja laboratorium; c). Memantau pelaksanaan pedoman keamanan kerja laboratorium; d). Memberikan rekomendasi untuk bahan pertimbangan penerbitan izin laboratorium; e). Mengatasi dan mencegah meluasnya bahaya yang timbul dari suatu laboratorium.

3. Pelaksanaan.

Fungsi pelaksanaan adalah kegiatan mendorong semangat kerja para pekerja/siswa, mengerahkan aktivitas pekerja/siswa, mengkoordinasikan berbagai aktivitas pekerja/siswa sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Pelaksanaan program kesehtan dan keselamatan kerja laboratorium sasarannya ialah tempat kerja yang aman dan sehat. Untuk itu setiap individu yang bekerja dalam laboratorium wajib mengetahui dan memahami semua hal yang diperkirakan akan dapat menjadi sumber kecelakaan kerja dalam laboratorium, serta memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk melaksanakan pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja tersebut. Disamping itu juga mematuhi berbagai peraturan atau ketentuan dalam menangani berbagai spesimen reagensia dan alat-alat.

4. Pengawasan

Fungsi pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau hasil yang dikehendaki. Untuk dapat menjalankan pengawasan perlu diperhatikan dua prinsip pokok yaitu : a) adanya rencana; b). Adanya instruksi-instruksi  dan pemberian wewenang kepada pekerja/siswa.

Ruang lingkup kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja pada prinsipnya mencakup tiga aspek, yakni aspek pekerja,  pekerjaan dan tempat bekerja, untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu persatu :

a) Pekerja/siswa

Para pekerja/siswa di suatu perusahaan/sekolah kesehatannya harus dijaga dengan baik. Hal tersebut sangat penting untuk peningkatan kinerja sehingga memperoleh tenaga-tenaga yang produktif dan profesional, sehingga pada gilirannya akan membantu  perusahaan/sekolah dalam mencapai tujuannya.

b) Pekerjaan.

Pekerjaan dapat diselesaikan jika ada pekerja. Namun para pekerja/siswa juga tidak banyak berarti apabila pekerjaan yang dilaksanakan tidak diperlakukan sesuai dengan aturan atau prosedur yang telah ditetapkan. Upaya mengurangi resiko dalam melakukan suatu pekerjaan antara lain : 1). Mengadakan perubahan dalam pekerjaan yang salah. Misalnya pemakaian alat kerja yang tidak sesuai harus diganti secepatnya;            2). Mencegah terjadinya penularan; 3). Diberlakukannya tindakan atau aturan yang ketat untuk melindungi para pekerja terhadap penggunaan alat-alat yang membahayakan. Misalnya: Menggunakan pakaian sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan dan juga melarang seseorang melakukan pekerjaan yang bukan menjadi keahliannya; 4). Pencahayaan/penerangan yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan cenderung rumit harus diberikan penerangan yang lebih. Hal ini dimaksudkan: a) Untuk mencegah dan menghindarkan terjadinya kecelakaan: b) Untuk menjaga mutu pekerjaan: c) Untuk tidak menurunkan produksi: d) Untuk tidak merusak mata; 5) Mengadakan latihan-latihan terhadap para pekerja/siswa di dalam bidang khusus.

Usaha untuk mencegah/memperkecil kecelakaan, dapat dilakukan dengan cara:

1). Mengadakan pengaturan tata cara kerja, antara lain dengan melakukan penjadwalan yang baik dan jam kerja rasional serta adanya istirahat berkala di antara jam kerja.

2).  Menerapkan  dan mematuhi peraturan sekolah atau perundang-undangan lamanya jam kerja.

3).  Menerapkapkan rolling kerja (shift/jam kerja) dengan jenis pekerjaan yang akan dilakukan. Hasil ini perlu dilakukan untuk menghindari pekerjaan dari kajenuhan atau kebosanan yang berakibat terjadinya kecelakaan. Semakin teliti dan halus suatu pekerjaan, makin harus diperpendek lamanya bekerja dan harus diselang dengan istirahat.

c) Tempat bekerja

Tempat bekerja merupakan bagian yang penting begi suatu industri/perusahaan atau sekolah, secara tidak langsung tempat bekerja akan  berpengaruh pada kesenangan, kenyamanan dan keselamatan dari para pekerja/siswa. Keadaan atau suasana yang menyenangkan (comfortable) dan aman (safe) akan menimbulkan gairah produktifitas kerja.